TIWUL


AJAIB
September 5, 2007, 7:55 pm
Filed under: Perenungan

Malam tanpa cahaya listrik. Ribuan atau bahkan jutaan bintang nampak berkelap-kelip di kekelaman langit. Tiba-tiba aku merasa betapa kecilnya diri ini. Apakah hanya aku satu-satunya yang memandang langit saat itu dan berpikir? Apakah aku, mahluk yang sedemikian tidak berartinya di tengah keluasan alam raya ini, yang sedang terpesona? Manusia, mahluk apakah kau? Apakah kau sedemikian istimewanya sehingga kau sendiri tidak mampu lagi merasakan kemaha-besaran dunia ini?

Kita ada. Kita hidup. Sekedar dari denyutan-denyutan yang kita rasakan dalam dada kita. Kita ada. Kita hidup. Sekedar dari apa yang saat ini sedang kita pikirkan. Perasaan dan pemikiran kita saling menjalin menjadi satu. Kadang menjadi rahmat. Tak jarang pula menjadi kutukan. Terutama saat kita tidak menyadari keberadaan alam semesta. Saat kita hidup hanya dari hasrat, kemauan dan ambisi kita.

Saat kita menginginkan hanya apa yang ada di dalam gejolak perasaan kita saja dan gagal untuk menyadari keberadaan kita secara utuh di tengah keluasan dunia. Padahal kita hanya sbuah noktah kecil saja. Hanya noktah kecil. Bagai bintik yang sedemikian tak berartinya. Sebuah noktah belaka.

Tetapi mengapa kita lalu merasa menjadi raksasa yang mampu untuk menyelami dan menjadikan alam raya ini sebagai diri kita? Dan karena itu kita lalu memaksakan kehendak kita pada ketak-berhinggaan itu? Tidakkah kita selayaknya menyadari keterbatasan kita? Dan karena itu dengan rendah hati mau menerima segala keindahan hidup dalam apa pun yang menjadi realitas yang kita hadapi. Apa pun yang saat ini kita miliki, apa pun yang saat ini kita anggap kita miliki, sungguh tak ada artinya di tengah keluasan semesta. Kita mengakui kebesaran Sang Pencipta tetapi kita bukanlah Sang Pencipta itu sendiri. Maka apakah kebenaran kita adalah memang kebenaran dunia? Ataukah hanya sekedar suatu angan dan hasrat dan ambisi kita saja?

Malam dengan ribuan atau jutaan cahaya bintang sedemikian indahnya. Tetapi ketika mendadak cahaya listrik menyala, sirnalah segalanya. Kita kembali terlelap dalam dunia buatan kita. Dan sebuah keindahan alami dari alam semesta hanya teringgal samar-samar di balik ingatan kita. Lalu komputer dihidupkan. Lalu kita tersambung ke internet. Memasuki dunia maya dan meninggalkan realitas alami yang ada di luar dari apa yang kita pikir sebagai diri kita saat ini. Kita tersambung ke seseorang di suatu tempat, dengan jarak yang tak terbatas. Tetapi ternyata kita hanya berada di tempat yang sama terus menerus. Kita merasa mengenal tetapi tidak mengenal. Kita merasa tahu tetapi tidak mengetahui. Kita merasa berada di alam raya ini tetapi bukan di alam nyata. Maka tiba-tiba kita ingin menangis kesepian. Menangis kesepian.

Sesungguhnya inilah keajaiban kita sebagai manusia. Kita merasa tahu diri kita tetapi tidak mengenalnya. Kita merasa sadar pada keberadaan kita tetapi tidak pernah merasa pasti. Dan di luar, sebuah dunia nyata, sebuah keindahan yang tak mampu kita rumuskan, sebuah alam ciptaan yang maha raksasa, kita lupakan. Karena kita ingin menjadi sang pencipta dunia kita sendiri. Dunia kita yang sesungguhnya amat hampa di tengah hiruk pikuk yang kita ciptakan. Di tengah cahaya yang kita buat untuk melupakan keheningan jiwa kita sendiri. Kita pelan-pelan terkubur dalam liang lahat yang amat sempit. Dan di luar kita, alam semesta tersenyum. Betapa asingnya senyum itu bagi kita kini di zaman yang kita anggap modern ini. Betapa asingnya. Ah, betapa ajaibnya kita semua…


for Email: tonny_sutedja@yahoo.com