Filed under: IMPIAN
Mampukah kita memahami makna cinta? Mampukah kita meresapkan arti cinta? Tidakkah seringkali semua itu terasa hanya sebuah kata yang tak bergaung di dunia modern ini? Kita memang sering merasa gagal untuk memahami tetapi ternyata seringkali secara tidak sadar telah melaksanakannya.
Ibu tua itu duduk di depan jenasah ketika aku tiba dan menyalaminya. Menyampaikan duka citaku. Dia memandangku dengan raut wajah yang lembut. Dia tersenyum sekilas dan mengucapkan terima kasih. Ibadat penghiburan berlangsung ringkas. Setelah itu aku dan segenap pelayat duduk sejenak untuk menemani keluarga yang berduka. Kami bertutur tentang situasi. Tentang hand-phone. Tentang bunga-bunga anggrek. Tentang apa saja yang ada dalam pikiran kami. Tetapi tentu tidak mengenai kematian. Bapak tua itu sendiri kini hanya berupa sosok jenasah yang tidak lagi berdaya. Tetapi aku lalu mengenang dia.
Bapak itu memiliki usaha penyelaman mutiara. Kehidupan yang cukup berbahaya tetapi dengan hasil yang amat memadai. Tahun 1978, dalam suatu penyelaman dia mengalami musibah. Sejak saat itulah dia lumpuh karena upaya pengobatan terlambat. Di sebuah pulau yang amat terpencil, jauh di sudut kepulauan Maluku. Usianya saat itu 38 tahun. Keluarga itu memiliki sepasang anak yang masih bersekolah, saat itu masih SD. Maka istrinya terus berupaya untuk membiayai kehidupan mereka sambil tetap berupaya untuk mengobati suaminya. Rumah mereka yang megah di jalan raya terpaksa dijualnya. Mereka lalu hidup di sebuah rumah kecil dan sempit di sebuah lorong. Tidak kumuh tetapi jelas situasinya amat berbeda dengan rumah mereka dulu. Sementara bapak itu hanya terbaring terus di atas tilam. Dengan punggung yang kian hari kian lecet dan membusuk walau setiap dua kali sehari diolesi cream-body dan bedak. Mereka tidak mempunyai pembantu.
Sesekali jika aku mendatangi mereka, ibu itu duduk sambil menyuapi suaminya setelah sebelumnya berdoa sekilas hanya dengan tanda salib. Dan karena sang suami amat menyukai ikan laut, dia pun sibuk memisahkan tulang ikan itu dengan gayanya yang khas. Rambut terikat. Tangannya mengambil sepotong daging sambil mencari dan mencabuti tulang-tulang halus itu. Hampir setiap saat. Aku sering melihatnya dengan perasaan hangat. Dia tetap tersenyum sambil menceritakan bahwa kondisi suaminya makin membaik. “Saya senang, sekarang dia sudah rajin berdoa.” “Saya berdoa rosario setiap malam dan dia mengikutiku.” “Kami selalu berdoa bersama-sama, hal yang dulu tak pernah kami lakukan karena dia selalu melaut.”
Waktu terus melaju. Anak-anak mereka telah dewasa. Yang tertua, seorang wanita, telah menikah dan kini menetap di ibukota. Yang lelaki menemani mereka. Juga telah bekerja di sebuah perusahaan distributor. Tahun 2003, bapak tua itupun meninggal setelah 25 tahun menderita. Aku menerima kabar itu, sedikit terkejut tetapi ada juga kelegaan karena dia telah terbebaskan dari derita yang panjang. Maka aku ikut menghadiri ibadat penghiburan serta pelepasan dan penguburannya. Sebuah riwayat singkat dari sejarah kehidupan yang amat panjang telah usai.
Kini, tahun 2004, aku kembali mengunjungi ibu itu. Dia nampak sehat walau usianya telah memasuki tahun ke 60. Dia duduk di sampingku. Kami lalu bertutur tentang masa lalu. Tentang anjing kecilnya. Tentang tanaman anggreknya. Tentang anak-anaknya. Dan juga tentang almarhum suaminya. Dan dia memaksaku untuk menemaninya makan siang. Dia menghidangkan ikan bakar. Setelah kami berdoa, dia pun sibuk memisahkan tulang ikan itu sambil menyerahkan dagingnya kepadaku. Masih tetap dengan gayanya yang unik. Rambut terikat. Walau kini dengan raut wajah yang kian mengeriput. Tetapi jelas bercahaya. Tetap bercahaya. Katanya, “Bapak telah tiada di dunia ini, tetapi toh masih juga ada bersamaku. Saya merasa bahwa kini bapak selalu mendoakan saya….” Maka merenunglah aku. Apakah 25 tahun yang lewat dalam segala upaya untuk melayani suaminya yang lumpuh itu suatu penderitaan atau malah rahmat baginya? Mengapakah kita yang kadang hanya mengalami masalah selama beberapa saat saja, sering malah mengeluh dan kadang bahkan menyerah? Bagaimanakah aku dapat menerima kenyataan itu? Apakah yang mendorong ibu itu untuk menerima segala percobaan dengan sabar, tabah dan penuh percaya diri? Bahkan dengan penuh rasa syukur? Hanya cinta yang dapat menjawabnya. Hanya cinta.